test banner SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI MEDIAONLINE "FAKTA ONE"

Proyek 150 Hari di Jalan Samudera Jadi Ujian: Bisakah Trotoar Rp8,5 M Bertahan Tanpa Korban Akar Pohon?

PADANG —  FAKTAONE. Trotoar sejatinya merupakan salah satu fasilitas publik yang memiliki fungsi penting dalam memberikan ruang yang aman dan nyaman bagi pejalan kaki. Selain itu, keberadaan trotoar juga menjadi bagian penting dalam mendukung aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.

Namun, kondisi sejumlah trotoar di Kota Padang justru menunjukkan persoalan yang patut menjadi perhatian. Trotoar yang awalnya terlihat rapi dan indah setelah selesai dikerjakan, seiring waktu tidak sedikit yang mengalami kerusakan, ambruk, terban, retak hingga permukaannya menjadi keriting dan bergelombang.

Kondisi tersebut tentu mengurangi kenyamanan masyarakat yang menggunakan fasilitas tersebut. Bahkan, permukaan trotoar yang tidak rata berpotensi meningkatkan risiko pengguna tersandung atau terjatuh, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia maupun penyandang disabilitas.

Salah satu kondisi yang terlihat adalah trotoar yang berada di kawasan GOR H. Agus Salim. Trotoar yang berada di sekitar pepohonan tampak mengalami kerusakan dan permukaan yang tidak lagi rata.

Persoalan serupa juga dinilai terjadi pada sejumlah trotoar di sudut Kota Padang, terutama pada bagian trotoar yang pembangunannya mengitari atau berada berdekatan dengan pohon.

Mengapa Trotoar Bisa Keriting dan Bergelombang?

Kerusakan trotoar di sekitar pohon pada dasarnya tidak selalu semata-mata disebabkan oleh kualitas material atau pekerjaan konstruksi. Pertumbuhan akar pohon juga dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan.

Akar pohon tertentu memiliki pola pertumbuhan lateral yang berada relatif dekat dengan permukaan tanah. Seiring bertambahnya usia dan ukuran pohon, akar dapat berkembang dan memberikan tekanan terhadap lapisan trotoar di atasnya.

Akibatnya, permukaan beton maupun paving block dapat terdorong ke atas, retak, bergeser atau membentuk permukaan yang bergelombang.

Persoalan lainnya dapat muncul ketika kondisi tanah di bawah trotoar terlalu padat. Akar membutuhkan air dan oksigen untuk berkembang. Ketika ruang tumbuh di bawah tanah terbatas, akar dapat mencari ruang ke arah permukaan.

Ditambah lagi, air hujan yang masuk melalui celah paving block berpotensi membawa material timbunan atau pasir pengikat apabila sistem lapisan bawah tidak dirancang dan dikerjakan dengan baik.

Faktor lain yang juga perlu diperhatikan adalah ukuran lubang tanam. Lubang yang terlalu sempit dapat menyebabkan tidak tersedianya ruang yang cukup bagi batang dan pangkal akar untuk berkembang secara alami.

Karena itu, pembangunan trotoar yang berada di sekitar pohon idealnya tidak hanya mempertimbangkan estetika ketika proyek selesai. Desain juga harus memperhitungkan pertumbuhan pohon dalam jangka panjang.

Potensi Terjadi pada Trotoar Jalan Samudera

Persoalan tersebut menjadi relevan untuk dicermati pada pembangunan trotoar di Jalan Samudera, kawasan Pantai Padang.

Pekerjaan trotoar yang menjadi tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) tersebut saat ini masih dalam proses pengerjaan.

Proyek tersebut dikerjakan oleh PT Kemuning Yona Pratama, dengan konsultan pengawas PT Raisa Gemilang. Nilai kontraknya tercatat sebesar Rp8.556.994.684,78, dengan tahun anggaran 2026.

Pekerjaan tersebut tercantum dalam kontrak nomor 007/Kont-PJ/APBD/DPUPR/2026, tertanggal 13 Juli 2026, dengan masa pelaksanaan selama 150 hari kalender.

Yang menjadi perhatian, pembangunan trotoar di sepanjang Jalan Samudera tersebut juga bersinggungan dengan keberadaan pepohonan.

Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian sejak awal. Bukan berarti kerusakan pasti akan terjadi, tetapi desain dan metode pelaksanaan pekerjaan perlu benar-benar mempertimbangkan pertumbuhan akar pohon dalam jangka panjang.

Apalagi, lokasi proyek berada di kawasan wisata Pantai Padang yang setiap hari ramai dikunjungi masyarakat maupun wisatawan.

Trotoar yang dibangun bukan hanya sekadar mempercantik kawasan. Fasilitas tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan ruang yang aman dan nyaman bagi masyarakat untuk berjalan kaki menikmati kawasan Pantai Padang.

Karena itu, kualitas konstruksi, spesifikasi material, sistem drainase, struktur lapisan bawah, hingga desain ruang tumbuh pohon menjadi bagian yang penting untuk diperhatikan.

Jangan sampai trotoar terlihat indah ketika proyek baru selesai, namun beberapa tahun kemudian berubah menjadi permukaan yang retak, keriting dan bergelombang akibat persoalan yang sebenarnya dapat diantisipasi sejak awal.

Terlebih, proyek menggunakan anggaran publik dengan nilai mencapai Rp8,55 miliar. Maka, kualitas dan keberlanjutan hasil pekerjaan tentu menjadi bagian yang patut dikawal bersama.

Sebelum “Padang Rancak” ternoda oleh trotoar yang rusak, solusi teknis terhadap trotoar yang mengitari pohon perlu dipikirkan sejak sekarang.

Apakah desain yang digunakan sudah memperhitungkan pertumbuhan akar pohon? Bagaimana spesifikasi lapisan bawah trotoar? Dan apakah terdapat metode khusus agar akar pohon tidak kembali mengangkat permukaan trotoar di kemudian hari?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting dijawab sebelum pekerjaan rampung.


Bersambung.

Belum ada Komentar untuk "Proyek 150 Hari di Jalan Samudera Jadi Ujian: Bisakah Trotoar Rp8,5 M Bertahan Tanpa Korban Akar Pohon?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan

Iklan Tengah

Iklan Bawah Artikel

Selamat datang di Website portal berita mediaonline kami, Terima kasih telah berkunjung, selamat membaca, tertanda Pemimpin Redaksi: