test banner SELAMAT DATANG DI WEBSITE RESMI MEDIAONLINE "FAKTA ONE"

Ketika Guru Diduga Jadi Sumber Luka: Ibu di Padang Desak Tim Independen Usut Perundungan Anaknya di SMAN 4 dan SMAN 2

PADANG — FAKTAONE. Sekolah seharusnya menjadi tempat seorang anak tumbuh, belajar, menemukan jati diri, dan merasa aman. Namun bagi SA, seorang siswi di Kota Padang, ruang pendidikan justru berubah menjadi tempat yang menurut keluarganya penuh tekanan, ketakutan, dan luka psikologis.

Perjalanan panjang yang diceritakan keluarga SA menggambarkan dugaan perundungan yang tidak berhenti pada satu peristiwa, tetapi berlanjut dari satu lingkungan sekolah ke lingkungan sekolah lainnya. Dari SMAN 4 Padang hingga SMAN 2 Padang, keluarga menyebut anaknya seperti kehilangan tempat untuk berlindung.

Kini, sang ibu, Magdalena, SH, memilih bersuara. Bukan hanya untuk memperjuangkan hak anaknya, tetapi juga mempertanyakan bagaimana sistem perlindungan peserta didik berjalan di sekolah-sekolah yang seharusnya menjadi benteng pertama menjaga masa depan generasi muda.

Awal Luka: Ketika Guru Diduga Menjadi Sumber Ketakutan

Cerita itu bermula sekitar delapan bulan lalu saat SA masih menuntut ilmu di SMAN 4 Padang.

Menurut Magdalena, anaknya mengalami dugaan tindakan kekerasan fisik oleh seorang oknum guru Bahasa Inggris. Peristiwa tersebut membuat SA pulang dalam kondisi terpukul dan kemudian menceritakan kejadian itu kepada ibunya.

Sebagai orang tua, Magdalena tidak tinggal diam. Ia mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan dan mencari penyelesaian. Proses mediasi pun dilakukan dengan harapan persoalan selesai dan anaknya kembali mendapatkan suasana belajar yang nyaman.

Dalam mediasi tersebut, disebutkan adanya kesepakatan agar tidak terjadi lagi tindakan yang dapat merugikan maupun memberikan tekanan kepada SA.

Namun, harapan itu menurut Magdalena tidak sepenuhnya terwujud.

Ia mengungkapkan, setelah proses mediasi, tekanan terhadap anaknya justru berubah bentuk. Bukan lagi hanya persoalan langsung, tetapi dugaan perlakuan yang membuat SA merasa dikucilkan dan tertekan secara psikologis.

Nama sejumlah oknum guru SMAN 4 Padang disebut keluarga dalam penelusuran mereka terkait dugaan tekanan tersebut, yakni Mustika, Kurniawan, dan Ade.

Selama berbulan-bulan, Magdalena mengaku melihat perubahan besar pada kondisi anaknya.

“Anak saya sering pulang menangis. Dia mengalami tekanan sampai akhirnya kami mengambil keputusan untuk memindahkannya,” ujar Magdalena.

Berharap Mendapat Perlindungan, Justru Menghadapi Babak Baru

Kepindahan SA ke SMAN 2 Padang awalnya dianggap sebagai jalan keluar.

Keluarga berharap lingkungan baru dapat memberikan kesempatan bagi SA untuk kembali belajar tanpa rasa takut.

Namun, harapan itu disebut hanya bertahan singkat.

Magdalena mengungkapkan, putrinya hanya mampu bertahan satu hari berada di sekolah tersebut. Pada hari kedua, menurut pengakuannya, SA kembali mengalami tekanan dari sejumlah oknum guru.

Beberapa nama disebut keluarga, di antaranya Yessi, Dawi, Yera, dan Satria.

Salah satu persoalan yang disoroti keluarga adalah munculnya dugaan penilaian sepihak terhadap SA yang berkaitan dengan unggahan media sosial TikTok.

Magdalena menduga adanya komunikasi antara pihak sekolah lama dengan sekolah baru yang kemudian mempengaruhi cara pandang terhadap anaknya.

Jika dugaan tersebut benar, maka persoalan ini bukan lagi sekadar konflik individu, melainkan menyentuh persoalan yang lebih besar: bagaimana informasi tentang seorang siswa dapat menyebar dan membentuk stigma sebelum adanya pemeriksaan objektif.

Ketika Anak Memilih Takut Daripada Datang ke Sekolah

Dampak terbesar dari persoalan ini dirasakan langsung oleh SA.

Menurut keluarga, tekanan yang dialami membuat anak tersebut mengalami ketakutan hingga menolak kembali masuk sekolah negeri.

Bagi seorang anak, keputusan meninggalkan sekolah bukanlah perkara sederhana. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang sosial tempat membangun masa depan.

Namun ketika ruang itu berubah menjadi sumber tekanan, keluarga akhirnya memilih langkah terakhir: memindahkan SA ke sekolah swasta.

Magdalena menilai persoalan ini tidak boleh berhenti pada penyelesaian administratif.

Menurutnya, jika benar terdapat tindakan intimidasi atau pelanggaran etik oleh tenaga pendidik, maka harus ada evaluasi serius agar kejadian serupa tidak dialami siswa lain.

Ujian Besar Bagi Dunia Pendidikan Padang

Kasus yang dialami SA kini menjadi ujian bagi dunia pendidikan di Kota Padang dan Sumatera Barat.

Sekolah tidak hanya dinilai dari prestasi akademik, fasilitas, atau jumlah lulusan yang diterima di perguruan tinggi. Lebih jauh dari itu, sekolah harus mampu menjamin rasa aman bagi setiap peserta didik.

Guru memiliki peran sebagai pendidik sekaligus pelindung. Kekuasaan dan kewenangan yang melekat pada seorang pendidik tidak boleh berubah menjadi tekanan terhadap anak didik.

Karena satu tindakan yang dianggap kecil oleh orang dewasa, bisa meninggalkan luka panjang bagi seorang anak.

Magdalena mendesak Dinas Pendidikan Sumatera Barat melakukan pemeriksaan menyeluruh dan membentuk tim independen untuk mengungkap fakta sebenarnya.

Ia juga meminta apabila ditemukan pelanggaran, maka harus ada tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada Dinas Pendidikan Sumatera Barat, pihak SMAN 4 Padang, SMAN 2 Padang, serta pihak-pihak yang disebut dalam laporan keluarga untuk mendapatkan informasi yang berimbang.

Sebab dalam dunia pendidikan, satu hal yang tidak boleh hilang adalah keberanian untuk melindungi anak.

(Tim Rakyat Sumbar)

Belum ada Komentar untuk "Ketika Guru Diduga Jadi Sumber Luka: Ibu di Padang Desak Tim Independen Usut Perundungan Anaknya di SMAN 4 dan SMAN 2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan

Iklan Tengah

Iklan Bawah Artikel

Selamat datang di Website portal berita mediaonline kami, Terima kasih telah berkunjung, selamat membaca, tertanda Pemimpin Redaksi: