SATU ABAD JAM GADANG, SATU KOTAK ES KRIM
Bukittinggi FAKTAONE. Di malam puncak perayaan satu abad Jam Gadang, Bukittinggi bersolek meriah. Lampu warna-warni menyala di setiap sudut jalan, memantulkan cahaya ke wajah-wajah pengunjung yang memadati pelataran dan taman.
Seorang ayah dari kampung, menggandeng dua anaknya yang matanya berbinar.
Bukittinggi, Minggu 07/06/2026.
Malam itu, tepat di jantung Kota Bukittinggi, di bawah menara Jam Gadang yang legendaris. Hati sang ayah berbunga melihat kedua buah hatinya begitu bahagia, ingin sekali menyaksikan keindahan kota di malam hari yang tak pernah mereka lihat sebelumnya.
Dengan langkah pasti, ia membimbing kedua anaknya menembus keramaian. Ketiga pasang mata itu terpukau. "Wah, indah nian," gumam sang ayah pelan, kagum melihat Jam Gadang bermandikan cahaya, gagah berdiri dikelilingi lautan manusia.
Setelah puas berkeliling, tercium aroma makanan dan minuman, langkah mereka terhenti di satu gerai. Si bungsu merengek, matanya tak lepas dari etalase es krim. "Beli itu, Ayah," pintanya. Di depan kedai sebenarnya sudah terpampang daftar harga menu besar-besar: es krim mulai dari 20 ribu sampai 50 ribu. Tapi sang ayah yang matanya hanya tertuju pada anaknya yang merengek, sama sekali tak sempat meliriknya. Tanpa pikir panjang, ia langsung memesan dua kotak es krim.
Dengan polosnya, ia menyodorkan uang lima puluh ribu ke kasir, yakin itu cukup untuk membayar keduanya. Ia orang kampung, biasa harga es krim cuma tiga ribu.
Namun, alangkah terkejutnya ia ketika sang kasir berkata, "Satu kotak lima puluh ribu, Pak."
Wajah sang ayah seketika pucat. Gugup, ia terbata, "Satu saja lah, Dek."
Es krim yang cuma satu itu akhirnya terpaksa dibagi dua untuk anak-anaknya. Sambil berjalan menjauh, ia menggerutu sendiri, "Aku tertipu... kukira harganya sama dengan di kampung."
Sang ayah menatap kedua anaknya yang asyik berbagi es krim sesendok demi sesendok. Ada rasa malu karena tak sanggup membelikan dua kotak es krim. Tawa kecil mereka pecah, berebut sendok plastik sambil duduk di pinggir taman. Di bawah temaram lampu kota dan dentang Jam Gadang yang baru saja berumur seabad, ia sadar: mahal atau murah, yang penting anak-anaknya bahagia. Harga lima puluh ribu itu lunas terbayar oleh senyum mereka.
Dalam perjalanan pulang, si sulung menggenggam tangan ayahnya erat. "Ayah, es krimnya enak. Besok kita ke sini lagi ya?" Sang ayah hanya tersenyum getir, mengusap kepala anaknya. Malam satu abad Jam Gadang itu akhirnya jadi kenangan yang tak akan ia lupa. Bukan karena kaget harga es krim, tapi karena ia belajar satu hal: kebahagiaan anak tak bisa diukur rupiah, meski dompet harus menjerit dulu. Dan mulai malam itu, ia berjanji dalam hati, akan kembali lagi ke Jam Gadang, tapi lain kali tanya harga dulu.
TIM

Belum ada Komentar untuk "SATU ABAD JAM GADANG, SATU KOTAK ES KRIM "
Posting Komentar