Dari Surau ke Kursi dan Meja: Kemenangan Gagasan Kelompok 5 atas Modernisasi Islam di Minangkabau
Padang FAKTA ONE . 10 juni 2026 Jika kita berbicara tentang pergulatan akal dan iman di Nusantara, tak bisa dilepaskan dari ranah yang dingin, Minangkabau. Namun, di awal abad ke-20, ranah ini justru membara. Bukan karena letusan gunung, melainkan letusan gagasan. Sebuah perang ide terjadi di surau-surau: antara yang bertahan pada tradisi halaqah (lingkaran belajar) yang khusyuk, dan yang ingin mengganti tikar pandan dengan meja-kursi ala Eropa.
Setelah melakukan penelitian historis melalui proses heuristik, kritik sumber, interpretasi, hingga historiografi Kelompok 5 Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Padang menemukan sebuah kesimpulan menarik: periode 1900-1945 adalah momen paling dramatis bagi pendidikan Islam di sana. Transformasi dari surau ke madrasah modern bukan sekadar ganti gedung; ini adalah pergeseran peradaban.
Lalu, apa pemicunya? Ironisnya, adalah “kado” dari musuh: Politik Etis Belanda.
Ironi Politik Etis: Musuh yang Menjadi Guru
Pemerintah kolonial Belanda, melalui politisi Van Deventer (1899), berpura-pura berbuat baik dengan mendirikan sekolah-sekolah Barat. Hasil penelitian kami (lihat tabel dalam jurnal) menunjukkan bahwa pada 1910, ada 42 sekolah Belanda dengan lebih dari 60 ribu murid di Sumatera Barat. Akibatnya, surau mulai ditinggalkan. Surau yang selama berabad-abad menjadi jantung intelektual Minangkabau tiba-tiba terasa kuno.
Di sinilah letak brillian nya Kaum Muda. Alih-alih melarang sekolah Belanda, mereka justru mencuri metode musuh. Tokoh seperti Syekh Abdullah Ahmad (pendiri Sekolah Adabiyah, 1909) dan Haji Rasul (ayahanda Hamka) paham: jika Islam tak mau ditinggalkan oleh zamannya, maka ia harus berubah. Mereka membawa pulang ide-ide reformis dari Mekah dan Kairo pengaruh Muhammad Abduh dan majalah Al-Manar.
Tiga Fase yang Kelompok 5 Rekam dari Sejarah
Berdasarkan analisis kronologis tim kami, transformasi ini berlangsung dalam tiga fase yang menarik:
1. Fase Perintisan (1900-1915): Berdirinya Sekolah Adabiyah (1909) oleh Syekh Abdullah Ahmad. Ini adalah prototipe madrasah modern pertama di Minangkabau. Meski kemudian berubah menjadi HIS (sekolah kolonial) pada 1915 karena dianggap terlalu “Barat”, namun ia sukses sebagai pembuka jalan.
2. Fase Ekspansi (1915-1930): Ini era keemasan. Lahir Madrasah Diniyah (1915) oleh Zainuddin Labai el-Yunusy yang digelar sore hari agar murid tetap bisa sekolah pagi di Belanda. Lalu yang terpenting: Sumatera Thawalib (1919). Thawalib adalah bukti bahwa surau bisa menjadi sekolah modern tanpa kehilangan roh keislaman. Di sinilah para pemuda dididik untuk tidak hanya mendalami agama, tetapi juga melawan kolonialisme.
3. Fase Institusionalisasi (1930-1945): Munculnya organisasi raksasa PERTI (mewadahi Kaum Tua) pada 1930 dan Normal Islam School (sekolah guru oleh Mahmud Yunus) pada 1931. Menariknya, Kaum Tua yang tadinya konservatif akhirnya ikut mendirikan madrasah modern. Ini bukti bahwa kompetisi itu sehat.
Mengapa Ini Penting untuk Dibaca Hari Ini?
Penelitian Kelompok 5 menyimpulkan bahwa Ordonansi Sekolah Liar (1932) yang dikeluarkan Belanda untuk menutup madrasah justru gagal total. Sebaliknya, solidaritas pengelola madrasah menguat. Dan ketika Jepang datang (1942-1945), pendidikan Islam justru mendapat angin segar karena Jepang butuh dukungan umat Islam untuk perang.
Transformasi di Minangkabau ini menjadi prototype bagi madrasah modern di seluruh Indonesia. Lulusannya bukan hanya ulama, tapi juga nasionalis. Hamka, Agus Salim, dan para alumni Normal Islam School adalah bukti nyata bahwa madrasah modern melahirkan pejuang kemerdekaan.
Catatan Kelompok 5 untuk Penelitian Selanjutnya
Kami sadar penelitian ini belum sempurna. Ada satu nama besar yang sengaja belum kami sentuh secara mendalam: Rahmah el-Yunusiyah yang mendirikan Diniyah Putri (1923). Peran perempuan dalam transformasi pendidikan Islam ini penting untuk dikaji lebih lanjut oleh generasi berikutnya.
Salam dari Padang,
Kelompok 5 – Prodi Pendidikan Sejarah, UNP
Belum ada Komentar untuk "Dari Surau ke Kursi dan Meja: Kemenangan Gagasan Kelompok 5 atas Modernisasi Islam di Minangkabau"
Posting Komentar