Bertemu dan mendengar langsung keluh kesah dari orang tua Prada Lucky Chepril Saputra Namo, serta mama dari Prada Richard Bulan.
"Ada duka yang dalam di mata mereka. Ada luka yang harus kita semua obati. Pemuda kita, putra terbaik NTT, Prada Lucky, pulang bukan dengan senyum kemenangan, tetapi dalam kesunyian yang menyayat. Ia mengabdi untuk negeri, tetapi nyawanya justru terengut dalam tragedi yang seharusnya tak pernah terjadi. Ia diduga tewas akibat penganiayaan seniornya sendiri. Ini menyakitkan. Ini memalukan. Dan ini harus menjadi titik balik.
Dari pertemuan ini, saya menangkap harapan besar dari keluarga. Mereka menginginkan keadilan, bukan balas dendam. Mereka meminta saya untuk mengawal proses hukum ini tanpa kompromi, memastikan transparansi, dan memastikan semua pelaku diadili sesuai hukum militer yang berlaku. Mereka juga berharap Komisi I DPR dapat menggelar Rapat Dengar Pendapat untuk menyoroti kasus ini secara serius. Selain itu, keluarga meminta agar pasal yang dikenakan kepada terdakwa ditinjau ulang, sementara ibu dari Prada Richard berharap anaknya mendapat perlindungan saksi yang memadai, salah satunya melalui pemindahtugasan.
Kasus di Batalyon TP 834 Waena, Nagekeo, yang melibatkan 22 anggota TNI AD ini kini berproses di Pengadilan Militer III-15 Kupang. Kita semua menginginkan TNI yang profesional dan humanis. Prajurit adalah tulang punggung kedaulatan bangsa, dan kekerasan tidak boleh lagi menjadi bagian dari sistem pelatihan ataupun kedisiplinan. Apa yang menimpa Prada Lucky tidak boleh terulang lagi
Bersama, kita akan terus mengawal. Bersama, kita akan berteriak lantang: Cukup sudah! Untuk Lucky, untuk NTT, dan untuk Indonesia yang lebih adil dan manusiawi." (Victor Bung Tilu Laiskodat)
📝FB/Victor_Bung_Tilu Laiskodat

Belum ada Komentar untuk "Bertemu dan mendengar langsung keluh kesah dari orang tua Prada Lucky Chepril Saputra Namo, serta mama dari Prada Richard Bulan. "
Posting Komentar